Senin, 14 September 2009

Tugas TMMB-Lydia EP/51408058


Rujak Achmad Jais Salah Satu Icon Kota Surabaya

Bertempat di jalan Achmad Jais no 40, Surabaya terdapat sebuah ruko dan depot rujak cingur yang berdiri sejak 1969 hingga sekarang. Depot ini dirintis oleh Ny.Ng Giok Tjoe(80) dan sekarang dilanjutkan oleh putrinya Ong Sioe Sin(56).”iya depot ini memang dibuka sejak aku masih baru pindah dari RRC ke sini, soale ikut suami, sekarang wes tua ya ganti anakku, aku cuma ngewangi ae” ujar Ny.Ng Giok Tjoe saat ditanya asal mula dari bukanya depot ini. Depot ini buka setiap hari mulai pukul 10.00-17.00(senin-sabtu) dan 11.00-17.00 (minggu). Keistimewaan dari rujak cingur ini adalah bumbunya yang lezat dan bisa bertahan hingga 5jam untuk rujak petis dan bumbu untuk rujak manis bisa bertahan hingga 1minggu. Cingur yang bersih dan empuk karena direbus hingga 2hari lamanya juga tempe yang renyah dan tahan udara juga bahan-bahan pilihan lainnya yang berkualitas tinggi juga menjadi keistimewaan dari rujak ini. Selain itu rujak cingur ini memiliki keunikan karena harganya yang cukup mahal (Rp 35.000,-), rujak ini juga menjadi langganan dari beberapa pejabat pemerintahan sejak era Alm.Soeharto dan menjadi langganan beberapa artis ibu kota. Depot rujak cingur ini juga sering diliput di berbagai media cetak dan elektronik(televisi). “bu Tutut itu dari dulu sejak alm. pak Harto jek jaya sampe sekarang tiap dateng ke Surabaya mesti beli rujak banyak, mantan gubernur Sutiyoso, artis Yuni shara, ya banyak lagi yang lainnya, pak Bondan sama kru Trans TV(Wisata Kuliner) juga ke sini kapanane” ujar Ny.Ong Sioe Sin saat ditanya mengenai rujak cingurnya yang menjadi langganan banyak pejabat dan artis.

Minggu, 13 September 2009

tugas tmmb_ theresia devy 51408012




Surabaya(9/9) Siang itu Balai Pemuda terdapat sebuah ruang yang didalamnya terpampang berbagai jenis lukisan. Pameran lukisan bertema Kurang Puas ini digagas oleh 4 pemuda yang ingin menunjukan eksistensi mereka terhadap seni, Ainur, Hendra, Rio dan Fauzi. “Temanya Kurang Puas, sebagai manusia kita tidak akan pernah puas untuk belajar karena itu kami ingin lebih menggali lagi apa yang kami punya.” Kata Rio ketua dari komunitas Efek Samping. Berawal dari dibawah almamater UNESA dan jurusan seni rupa, meskipun ada yang sudah lulus, keinginan mereka untuk terus memacu semangat serta mengeksplorasi kreaifitas dari seni itu sendiri. Disamping itu, pesan pendek yang dikirim oleh Fadjar Djunaedi perupa batu kepada Hendra Wahyu yang bertuliskan “Logikae lek kita mumet pasti kita ditantang oleh kreatifitas… itulah hebate seni, biar kita gak puas dengan yang sudah ada, tapi belajar terus gak ono marine….” Juga memacu mereka untuk membuat pameran ini. Sedangkan untuk nama komunitas “Efek samping” ini dipilih agar orang setelah melihat karena mereka dapat merasakan efek sampingnya, seperti efek samping dari orang sakit setelah minum obat dapat sembuh. Komunitas ini baru berdiri 5 bulan sejak bulan April lalu. Namun mereka langsung berkarya dengan mengadakan pameran yang digelar pada tanggal 7-14 Sepetmber 2009 di Galeri Surabaya Balai Pemuda. Mereka memilih tempat di Balai pemuda karena mereka ingin membuat pameran di luar kampus dan mencari tempat yang strategis dan pusat dari seni. Terdapat 14 lukisan yang mereka tampilkan sesuai dengan ciri khas tiap-tiap pelukis. Ainur dengan bibir merah, Rio dengan bola lampu, Hendra yang lebih mengarah pada gambar mobil dan Fauzi yang mengekspose gambar kacang. Kedepannya komunitas Efek samping tidak akan berhenti hanya sekedar pameran di Surabaya, mereka akan meluaskan sayapnya tingkat nasional pada Desember tahun ini

tugas tmmb-theresia deby 51408012

Tugas TMMB-Theresia Devy 51408012
Surabaya(9/9) Siang itu Balai Pemuda terdapat sebuah ruang yang didalamnya terpampang berbagai jenis lukisan. Pameran lukisan bertema Kurang Puas ini digagas oleh 4 pemuda yang ingin menunjukan eksistensi mereka terhadap seni, Ainur, Hendra, Rio dan Fauzi. “Temanya Kurang Puas, sebagai manusia kita tidak akan pernah puas untuk belajar karena itu kami ingin lebih menggali lagi apa yang kami punya.” Kata Rio ketua dari komunitas Efek Samping. Berawal dari dibawah almamater UNESA dan jurusan seni rupa, meskipun ada yang sudah lulus, keinginan mereka untuk terus memacu semangat serta mengeksplorasi kreaifitas dari seni itu sendiri. Disamping itu, pesan pendek yang dikirim oleh Fadjar Djunaedi perupa batu kepada Hendra Wahyu yang bertuliskan “Logikae lek kita mumet pasti kita ditantang oleh kreatifitas… itulah hebate seni, biar kita gak puas dengan yang sudah ada, tapi belajar terus gak ono marine….” Juga memacu mereka untuk membuat pameran ini. Sedangkan untuk nama komunitas “Efek samping” ini dipilih agar orang setelah melihat karena mereka dapat merasakan efek sampingnya, seperti efek samping dari orang sakit setelah minum obat dapat sembuh. Komunitas ini baru berdiri 5 bulan sejak bulan April lalu. Namun mereka langsung berkarya dengan mengadakan pameran yang digelar pada tanggal 7-14 Sepetmber 2009 di Galeri Surabaya Balai Pemuda. Mereka memilih tempat di Balai pemuda karena mereka ingin membuat pameran di luar kampus dan mencari tempat yang strategis dan pusat dari seni. Terdapat 14 lukisan yang mereka tampilkan sesuai dengan ciri khas tiap-tiap pelukis. Ainur dengan bibir merah, Rio dengan bola lampu, Hendra yang lebih mengarah pada gambar mobil dan Fauzi yang mengekspose gambar kacang. Kedepannya komunitas Efek samping tidak akan berhenti hanya sekedar pameran di Surabaya, mereka akan meluaskan sayapnya tingkat nasional pada Desember tahun ini.

Tugas TMMB - Rony Wijaya 51408106


Tugas TMMB - Rony Wijaya 51408106



Hendra Wahyu Darmawan

-------------------------------------------------------------------------------------------------
”Sentuhan” Politik di atas Canvas

Berpegang pada kemampuan seni rupa, pemuda asal Mojokerto, Hendra Wahyu Darmawan (23), menggambarkan kondisi politik Indonesia melalui lukisan buatannya. Lukisan Hendra yang bertajuk Red, Yellow, Green, Blue, ikut terpampang dalam suatu pameran lukisan yang diadakan sejak dua hari yang lalu (7/9) di Galeri Surabaya. Bungsu empat bersaudara kelahiran Mojokerto, 26 Oktober 1986 ini, mengatakan bahwa butuh waktu kurang lebih satu bulan untuk menyelesaikan lukisan tersebut.
Lukisan berukuran 180x140 cm yang ia buat di sebuah studio dekat rumah kontrakannya ini, menerangkan secara umum kondisi politik di Indonesia. Hendra menjelaskan bahwa di Indonesia terdapat banyak partai politik yang saling berkompetisi untuk menduduki kursi pemerintahan, namun tidak semuanya dapat memperoleh suara yang banyak. Gambar mobil-mobil yang berwarna merah, kuning, hijau, dan biru pada lukisannya, ia ilustrasikan sebagai warna dari partai-partai kuat yang ada di Indonesia.
“Mobil-mobil itu saya buat dengan susunan tertentu agar bisa timbul kesan keruangan yang menarik,” kata Hendra yang gemar fotografi, menggambar, dan main game.
Sedangkan gambar orang berlabelkan tanda STOP di mulutnya, mengilustrasikan dirinya yang tidak perlu berbicara apa-apa. Hal ini karena memang seperti itulah kenyataan yang terjadi di Indonesia.
Anak dari pasangan Ali Subiakto dan Kusti Nurdayah ini menerangkan, bahwa ia mengambil model mobil karena terinspirasi pada masa kecilnya. Mobil-mobilan adalah mainan pertama yang ia dapat dari kedua orang tuanya. Kenangan inilah yang masih membekas di benaknya, sehingga pada setiap karyanya ia selalu menyertakan model mobil-mobilan.

Tugas TMMB_Vera Arindita 51408035

Tours & Pilgrims Sepi Order Menjelang Libur Lebaran










Gambar 1. ki-ka : Waitomo Caves, Terusan Suez, Yerusalem, Gyeongbok Palace


Kunjungan ke tempat-tempat bersejarah di Selandia Baru, Terusan Suez, Israel, Seoul dan tempat tujuan wisata menarik lainnya seperti foto-foto di atas mengalami penurunan dalam setengah tahun belakangan, terlebih pada musim lebaran ini. Fenomena sepinya kunjungan ke negeri orang tersebut dinyatakan oleh salah satu agen penjual jasa tours & pilgrims, Via Glorie. Sepinya order tampak dalam suasana perkantoran yang bertempat di Jalan Yos Sudarso 17C ini, tak ada satu pun pengunjung yang datang untuk memesan atau sekedar bertanya untuk bahan referensi mereka liburan.

Feber Kurniawati, salah satu karyawati agen tours ini pada saat diwawancara mengemukakan tentang beberapa kemungkinan penyebab penurunan minat masyarakat untuk menggunakan jasa agen tours & pilgrims-nya. ”Sepertinya, pengaruh selesai perang dan ancaman akan adanya teroris berdampak pada penurunan minat mereka untuk bepergian.” Rupanya keresahan tersebut mengalahkan perhatian masyarakat akan menariknya tempat-tempat bersejarah seperti ke Waitomo Caves di Selandia Baru, Terusan Suez, Tanah Terjanji Yerusalem di Israel, ataupun ke Museum Gyeongbok Palace di Seoul. Lebih dari itu, dirinya juga menambahkan kalau para penumpang sekarang sudah lebih pandai mengatur jadwal kepergian mereka sendiri, ”Kita hanya mendapat order penjualan tiket pulang-pergi dan mengatur penginapan mereka, sedangkan untuk tour giude-nya sendiri sekarang kurang diminati karena banyak keluarga yang merasa tidak nyaman dan kurang leluasa.” Itulah beberapa alasan yang menyebabkan sepinya tour kali ini.

Sejalan dengan kunjungan ke luar negeri, karyawati berumur 24 tahun ini juga mengatakan bahwa penjualan tiket pesawat untuk dalam negeri juga mengalami penurunan dalam momentum yang sama yaitu Idul Fitri daripada tahun lalu , walaupun tidak signifikan. ”Kalau tahun 2008, sekitar tiga puluh hari menjelang Idul Fitri sudah banyak yang memesan tiket, tetapi tahun ini berbeda, terasa sepi, bahkan untuk penjualan tiket dengan tujuan ke kota-kota menarik seperti Jakarta dan Denpasar,” begitu tuturnya. ”Lagipula orang sekarang kebanyakan lebih menggunakan alternatif jalan darat untuk mudik ke daerah yang tidak terlalu jauh daripada membeli tiket yang harganya cenderung melambung.” Tampaknya hal ni juga didukung oleh situasi jalan raya yang sudah cukup kondusif.

Jadi, pada tahun ini bagi para agen tours & pilgrims agaknya harus meningkatkan teknik promosi yang lebih baik lagi. Selain itu, untuk para keluarga yang sudah merencakan liburan sebaiknya segera memesan tiket sebelum hari-H Idul Fitri tiba, mengingat sudah semakin dekatnya, H-7 menjelang perayaan Hari Raya Umat Islam tersebut dan tidak perlu takut karena setiap Kepolisian Daerah akan melakukan pengamanan ekstra terkait dengan ancaman adanya pengeboman.


Vera Arindita
51408035

Tugas TMMB - Lavi Marcheliena (51408045)


Dari Dulu Suka Bersih-bersih

Surabaya - Sudah 10 tahun Pak Samin bekerja pada kotamadya sebagai tukang sapu jalan. Ini berawal dari hobinya yang suka membersihkan lingkungan saat dulu masih tinggal di kampong halamannya di Jawa Tengah. Tuntutan kebutuhan keluarga yang semakin meningkat membawa bapak yang berperawakan kecil ini untuk mencari penghasilan yang lebih baik di ibukota, Surabaya. Berangkat dari hobi suka bersih-bersih inilah yang membuat Pak samin memutuskan untuk melamar pekerjaan sesuai dengan kesenangannya, yaitu pegawai dinas kebersihan kota.
Siang hari yang terik tidak menyurutkan niat Pak Samin untuk menjalankan pekerjaannya menyapu jalan. Safari kuning yang menandakan bahwa ia adalah petugas kebersihan nampaknya membuat ayah dari 2 orang anak ini sedikit kepanasan. Hanya dengan berpayungkan topi kuning, ia menyapu daun-daun kering dan sampah-sampah kecil yang mengotori sepanjang jalan Pemuda, sambil sesekali mengusap keringat yang mengalir di dahinya. Sapu korek dan karung sampah selalu menemaninya bekerja mulai dari pukul 14.00 hingga pukul 22.00.
Di Surabaya Pak Samin tinggal seorang diri, ia tinggal di Sidosermo 998 B no 5. Tiga bulan sekali ia pulang ke Jawa Tengah untuk bertemu dengan anak dan istrinya yang bekerja sebagai petani. Sebelum berangkat kerja, pagi harinya Pak Samin menyempatkan waktu untuk membersihkan lingkungan tempat tinggalnya saat ini. Setiap hari ia berangkat dengan mengayuh sepeda dan menempuh waktu kurang lebih 30 menit untuk tiba di tempat kerjanya., tapi ia melakukan semua itu dengan senang hati, tak pernah sedikitpun ia mengeluh, walaupun sedih berada jauh dari keluarga. Begitu ditanya soal gaji perbulan , ia menyebutkan angka 900 ribu rupiah. “ Ya pokoknya cukup untuk member makan keluarga dan menyekolahkan anak-anak di kampung, kalau saya disini makan ya seadanya saja.” Ujar bapak yang berusia 40 tahun ini sambil tersenyum.
Begitu besar cintanya pada lingkungan, tak segan-segan Pak Samin menegur orang yang membuang sampah sembarangan. Walaupun pekerjaan ini tidak bisa dianggap enteng, tapi semangatnya untuk menciptakan kebersihan patut diacungi jempol. Entah apa yang akan terjadi pada dunia ini jika tidak ada orang seperti Pak Samin.

Tugas TMMB - Bakri si Penjual Bakso

Proses wawancara dengan Pak Bakri

Pak Bakri sedang membuat es degan

Pembeli bakso Pak Bakri

SURABAYA, (09/09/2009)- Ada acara bazaar Ramadhan yang dilaksanakan di Balai Pemuda. Bazaar ini mulai dari buku dan majalah bekas, makanan, sampai pernak-pernik untuk Lebaran. Ada juga pameran lukisan yang diadakan di Balai Pemuda. Di depan tempat pameran lukisan berlangsung ada satu penjual bakso yang ramai dikunjungi oleh orang yang ada di Balai Pemuda.
Nama penjual bakso itu adalah Pak Bakri (42). Pak Bakri lahir di Lamongan pada tanggal 18 April 1968, mempunyai istri yang bernama Arofah dan 1 anak perempuan bernama Vina Fatmawati. Mulai pindah ke Surabaya pada tahun 1989, tempat tinggalnya di Tambak Pring Timur gang 6 no 24. Dahulu Pak Bakri berjualan tetap di jalan Boulevard, tetapi pada Oktober 2008 ada penggusuran, sehingga Pak Bakri tidak dapat berjualan. Sebelum berjualan bakso, Pak Bakri adalah seorang pengangguran.
Selama hampir 8 bulan menganggur, akhirnya sekarang dapat berjualan lagi setelah mendapat tempat berjualan yaitu di Balai Pemuda, walaupun Balai Pemuda bukan tempat berjualan tetap, “kalau saya diusir ya saya baru pindah, kalau tidak diusir ya saya berjualan di sini terus”, katanya. Pak Bakri baru berjualan di Balai Pemuda sekitar 8 bulan, tetapi sudah ramai oleh pembeli. Harga bakso Pak Bakri adalah Rp 5000/ porsi dan harga es degannya adalah Rp 3000/ gelas.
Selama hampir 20 tahun di Surabaya, Pak Bakri bekerja sebagai penjual bakso dan es degan. Ide berjualan bakso adalah ide yang turun temurun dari keluarganya, dan baksonya pun buatan sendiri. Pak Bakri juga mencari degannya sendiri, tidak beli di pasar. Pak Bakri mulai berangkat berjualan dari rumah jam 11 siang dan pulang jam 10 malam, kadang-kadang baksonya laris manis, tetapi kadang-kadang juga sepi. Mengenai pembelinya, pembelinya variatif, segala usia, tetapi rata-rata adalah kaum perempuan yang kebanyakan makan bakso.
Kalau ditanya soal modal, “modal saya adalah modal nekat, ya seperti saya ini modal dengkul”, katanya sambil tertawa. Suka duka Pak Bakri adalah sukanya kalau di Balai Pemuda ada acara jadi baksonya bisa laris, selain itu kalau lagi dapat untung. Omset yang didapat Pak Bakri rata-rata adalah Rp 50.000, tetapi itu juga tidak menentu, tergantung keadaan. Dukanya adalah karena berjualannya mendorong rombong dari rumah sampai ke tempat berjualan jauh.
Saat ditanya tentang bagaimana berjualan pada saat hari Lebaran? “Pada waktu hari biasa dan Lebaran terasa sekali bedanya, tidak selaris biasanya karena orang-orang juga pada puasa”, katanya. Harapan seorang penjual bakso seperti Pak Bakri adalah ada sedikit kemujuran, dan ada perbedaan dari kemarin-kemarin atau adanya perubahan.

Michael Ardian
51408099