
Berawal dari sebuah SMS singkat, Ainur, Fauzi, Hendra, dan Rio, yang tergabung dalam komunitas “Efek Samping”, mengadakan pameran karya seni bertajuk Kurang Puas. Pameran yang diadakan di Galeri Surabaya dari tanggal 7-14 September 2009 tersebut merupakan bentuk “kekurangpuasan” komunitas Efek Samping terhadap ilmu seni rupa yang telah mereka dapat selama ini.
Pesan singkat tersebut berbunyi, ‘Logikae lek kita mumet pasti kita ditantang oleh kreativitas…Itulah hebate seni, biar kita gak puas dengan yang sudah ada, tapi belajar terus gak ono marine…”. Hendra Wahyu menerima SMS tersebut dari seorang perupa Batu, Fajar Djunaedi,. SMS ini yang akhirnya mendorong mereka untuk mengadakan pameran sebagai bukti eksplorasi mereka terhadap seni yang tidak pernah mati. Saat merencanakan pameran perdana mereka tersebut, keempat orang ini merasa perlu membuat suatu identitas. Atas dasar tersebut, muncullah komunitas “Efek Samping” yang terdiri atas dua orang mahasiswa semester akhir serta dua orang alumnus Seni Rupa UNESA, yaitu Miftakhul Fauzi, Ainur, Hendra Wahyu, serta Rio Siigit. Sama seperti tulisan efek samping yang sering kita lihat di kemasan obat, nama efek samping dipilih untuk menggambarkan efek yang akan diterima oleh seorang seniman bila terlalu banyak bergulat dengan karya seni.
SIMBOL SENIMAN
Pameran ini membutuhkan persiapan selama lima bulan, dimulai sejak bulan April lalu. Dalam pameran perdana ini, Komunitas Efek Samping menghadirkan empat belas karya yang berbeda dengan empat simbol utama yang masing-masing mencirikan senimannya. Ainur memilih simbol bibir merah sebagai simbol dari seorang wanita tuna susila. Ia mengangkat tema ini dari empat karyanya karena ia melihat bahwa tidak semua orang mengerti identitas dari seorang pelacur, masyarakat terburu-buru memberi label jelek. Selain itu, salah satu karyanya yang berjudul “Is ‘Ripped’" merupakan gambaran kekecewaan Ainur terhadap apreasisi masyarakat yang rendah terhadap seni yang mengangkat unsur sensual. Fauzi sendiri memilih kacang sebagai obyek utama dari kelima karyanya karena bentuknya yang unik dan mudah dikenali orang. Kelima lukisan yang dibuat menggambarkan karakter dirinya yang suka memberontak dan mendobrak batas-batas seni untuk menghasilkan karya yang lain dari biasanya. Seniman berikutnya, Hendra,memilih menggunakan mobil sebagai simbol karyanya. Ia mengatakan bahwa mobil adalah simbol kesenangan dirinya. Dua dari karyanya menggambarkan isu politik yang sedang marak saat ia menyelesaikan karyanya yaitu saat pileg dan hasil empat besar Pemilu Presiden keluar. Sementara dalam karya yang berjudul “Warning (!/?)” ia mencoba mengkritisi tulisan warning yang tertera di kemasan rokok, sekalipun tertulis, para perokok tidak pernah menghiraukan peringatan tersebut. Lukisan “Warning (!/?) sekaligus merupakan gambaran diri Hendra yang berusaha melepaskan ketergantungannya dari rokok. Lukisan seniman terakhir, Rio, bisa dikenali dari simbol bola lampu yang menurutnya adalah lambang kreativitas.
Pameran ini akan berlangsung selama seminggu penuh. Rencananya, Komunitas Efek Samping akan melanjutkan pameran berikutnya dengan karya yang berbeda di Batu, Malang pada bulan Desember nanti.
BY: vassilisa Agata / 51408041

Tidak ada komentar:
Posting Komentar