Jumat, 11 September 2009

Satu Tema Beragam Warna


Pameran lukisan di Balai Pemuda "Kurang Puas"

Sebuah pameran lukisan biasanya memiliki sebuah tema besar dan karya yang ditampilkan pun berkaitan dengan tema tersebut. Tetapi, tidak demikian dengan pameran lukisan yang diadakan di Balai Pemuda, Surabaya pada tanggal 7 September hingga 14 September 2009 bertema “Kurang Puas” ini. Pameran ini diikuti oleh empat orang pelukis muda, yang merupakan mahasiswa seni rupa UNESA, Surabaya, yang sudah sering menampilkan lukisan-lukisannya pada berbagai macam pameran lukisan. Mereka menyajikan beragam lukisan dengan tema yang berbeda setiap karya mereka.

Jika dilihat secara seksama, kita bisa menemukan empat ciri khas yang berbeda setiap lukisan. Ada empat buah gambar yang di lukisan berbeda yang selalu muncul, yaitu bibir merah, kacang, lampu dan mobil. Empat benda ini cukup unik untuk ditanyakan pada pelukisnya langsung. Ainur, salah satu pelukis mengatakan bahwa empat gambar di lukisan yang berbeda itu melambangkan karakter pribadi dan hal-hal yang dikritik oleh keempat pelukis.

Ainur adalah pelukis dengan ciri khas lukisan bibir merah di setiap lukisannya. “Lukisan ini sebenarnya merupakan kisah tentang Si Bibir Merah yang melambangkan seorang PSK. Saya mengkritisi
kisah kehidupan mereka yang penuh dengan dendam, uang, dan masalah- masalah yang lain,” kata Ainur. Seorang PSK yang memiliki dendam kadang tidak berpikir panjang dalam melampiaskan dendamnya, tanpa mencari bukti-bukti yang ada, merupakan penjelasan dari salah satu lukisan karyanya.


Lukisan Hendra yang mengkritisi dunia politik dan "Raja Ngeyel" karya Rio

Ada juga pelukis “Lampu”, Rio, yang menjelaskan bahwa dirinya tidak pernah puas mencari kreativitas dan melambangkannya dalam simbol lampu. Lampu merupakan simbol kreativitas. Rio menggambarkan dirinya sendiri yang tidak pernah puas dalam mencari sumber inspirasi. Dia ingin terus mencari hal- hal unik yang ada di sekitarnya untuk dijadikan sebuah lukisan.

Pelukis yang cukup kritis dalam melihat dunia politik adalah Hendra, sang pelukis “Mobil-mobilan”. Hendra menuangkan kritiknya terhadap dunia politik melalui gambar mobil-mobilan. Ketika ditanya mengapa harus disimbolkan dengan mobil-mobilan, Hendra menjawab,”Mobil-mobilan itu merupakan mainan favorit saya saat kecil dan saya melukiskan mobil sebagai lambang partai favorit masyarakat.” Hendra menjelaskan salah satu lukisannya, yaitu gambar mobil dalam empat panel berbeda dan di panel terakhir ada gambar stroberi di atas mobil,” Lukisan ini saya buat untuk mengkritisi partai politik yang ikut PEMILU beberapa waktu yang lalu diwarnai banyak sekali permainan politik saat kampanye, partai yang tidak memberikan sesuatu yang spesial tidak akan mendapat pendukung banyak.”


Pelukis yang membuat gambar kacang di setiap lukisannya, Fauzi, mengaku memilih gambar kacang untuk melukiskan mahasiswi zaman ini yang penampilannya saja meyakinkan tetapi tidak punya isi. Mahasiswi digambarkan seperti kacang yang kulitnya kelihatan halus dan unik, tapi jika dipegang ternyata kasar dan tidak berisi. Fauzi melihat realita itu di dalam kampusnya.

Salah satu lukisan kacang karya Fauzi

Realita – realita yang ada di sekitar kita bisa dilukiskan dengan indah dan luar biasa oleh empat orang pelukis muda ini. Mereka merupakan contoh arek-arek Suroboyo yang mengkritisi berbagai macam hal yang terjadi di sekitar kita. Empat orang ini telah memberikan sumbangsih yang cukup besar bagi dunia seni Indonesia dalam menyajikan lukisan kritik yang dapat menegur banyak orang untuk peduli akan realita yang ada di sekitarnya.

Paulina Sigit

51408038



Tidak ada komentar:

Posting Komentar