Proses wawancara dengan Pak Bakri
Pak Bakri sedang membuat es degan
Pembeli bakso Pak BakriSURABAYA, (09/09/2009)- Ada acara bazaar Ramadhan yang dilaksanakan di Balai Pemuda. Bazaar ini mulai dari buku dan majalah bekas, makanan, sampai pernak-pernik untuk Lebaran. Ada juga pameran lukisan yang diadakan di Balai Pemuda. Di depan tempat pameran lukisan berlangsung ada satu penjual bakso yang ramai dikunjungi oleh orang yang ada di Balai Pemuda.
Nama penjual bakso itu adalah Pak Bakri (42). Pak Bakri lahir di Lamongan pada tanggal 18 April 1968, mempunyai istri yang bernama Arofah dan 1 anak perempuan bernama Vina Fatmawati. Mulai pindah ke Surabaya pada tahun 1989, tempat tinggalnya di Tambak Pring Timur gang 6 no 24. Dahulu Pak Bakri berjualan tetap di jalan Boulevard, tetapi pada Oktober 2008 ada penggusuran, sehingga Pak Bakri tidak dapat berjualan. Sebelum berjualan bakso, Pak Bakri adalah seorang pengangguran.
Selama hampir 8 bulan menganggur, akhirnya sekarang dapat berjualan lagi setelah mendapat tempat berjualan yaitu di Balai Pemuda, walaupun Balai Pemuda bukan tempat berjualan tetap, “kalau saya diusir ya saya baru pindah, kalau tidak diusir ya saya berjualan di sini terus”, katanya. Pak Bakri baru berjualan di Balai Pemuda sekitar 8 bulan, tetapi sudah ramai oleh pembeli. Harga bakso Pak Bakri adalah Rp 5000/ porsi dan harga es degannya adalah Rp 3000/ gelas.
Selama hampir 20 tahun di Surabaya, Pak Bakri bekerja sebagai penjual bakso dan es degan. Ide berjualan bakso adalah ide yang turun temurun dari keluarganya, dan baksonya pun buatan sendiri. Pak Bakri juga mencari degannya sendiri, tidak beli di pasar. Pak Bakri mulai berangkat berjualan dari rumah jam 11 siang dan pulang jam 10 malam, kadang-kadang baksonya laris manis, tetapi kadang-kadang juga sepi. Mengenai pembelinya, pembelinya variatif, segala usia, tetapi rata-rata adalah kaum perempuan yang kebanyakan makan bakso.
Kalau ditanya soal modal, “modal saya adalah modal nekat, ya seperti saya ini modal dengkul”, katanya sambil tertawa. Suka duka Pak Bakri adalah sukanya kalau di Balai Pemuda ada acara jadi baksonya bisa laris, selain itu kalau lagi dapat untung. Omset yang didapat Pak Bakri rata-rata adalah Rp 50.000, tetapi itu juga tidak menentu, tergantung keadaan. Dukanya adalah karena berjualannya mendorong rombong dari rumah sampai ke tempat berjualan jauh.
Saat ditanya tentang bagaimana berjualan pada saat hari Lebaran? “Pada waktu hari biasa dan Lebaran terasa sekali bedanya, tidak selaris biasanya karena orang-orang juga pada puasa”, katanya. Harapan seorang penjual bakso seperti Pak Bakri adalah ada sedikit kemujuran, dan ada perbedaan dari kemarin-kemarin atau adanya perubahan.
Michael Ardian
51408099

Tidak ada komentar:
Posting Komentar