Sabtu, 12 September 2009

Semangat Balai Pemuda

Di jantung kota Surabaya, berdampingan dengan gedung-gedung tinggi, sebuah bangunan zaman Belanda masih berdiri gagah. Di atas tanah seluas 17.000 meter persegi, Balai Pemuda mencatat sejarahnya sendiri. Dari sebuah pusat rekreasi orang-orang Belanda menjadi markas arek-arek Suroboyo melawan penjajah dan kini menjadi gedung serbaguna. Beralihnya fungsinya Balai Pemuda menunjukkan pergantian generasi di Surabaya. Balai Pemuda adalah balai milik para pemuda Surabaya.



Salah seorang pemuda yang masih bertahan di areal tempat Bioskop Mitra 21 dulu berdiri ini adalah Haji Abdullah. Pria keturunan Bugis ini sudah menjadi tukang parkir di kompleks Balai Pemuda selama duapuluh tujuh tahun. Namun baginya Balai Pemuda bukan hanya tempat ia bekerja namun menjadi sebuah tempat kenangan. “Saya tidak pernah pindah karena di sini (Balai Pemuda) bagus. Tidak ada ganti-ganti (berubah)”. Dengan gaji Rp 800.000,00 sebulan, Haji Abdullah menafkahi istri dan seorang anaknya. Anaknya, seorang lulusan SMK, kini bekerja di gedung DPRD tepat di sebelah kompleks Balai Pemuda. “Jadi bisa pulang bersama-sama.” Ujarnya diiringi senyuman.



Sementara itu, Karjian, seorang pedagang kue basah sedang duduk menunggu pembeli di beranda Galeri Surabaya. Pria 51 tahun itu memilih Balai Pemuda sebagai tempat mangkalnya seteleh seharian mengelilingi kota Surabaya karena Balai Pemuda adalah tempat yang aman. “Kalau di tempat lain, biasanya diobrak (diusir).” Karjian yang telah berjualan di kompleks Balai Pemuda sejak sebelum gedung DPRD dibangun, menyayangkan perobohan Bioskop Mitra 21. Tidak hanya karena pendapatannya berkurang, namun karena gedung bioskop tersebut menyimpan sejarah. “Dulunya itu (gedung bioskop) dibuat tempat nyimpen anggur pas jaman Belanda.”



Lain halnya dengan Miftakhul Fauzi (21), pelukis yang sedang menggelar pameran lukisan di Galeri Surabaya, Balai Pemuda. Ia memilih Balai Pemuda sebagai tempat pameran karena sewa gedungnya cukup terjangkau namun hasilnya efektif. “Baru dua hari pameran sudah ada kurang lebih seratus orang yang datang.” Menurutnya pula, jika ingin menjaring pemuda Surabaya, Balai pemuda adalah gedung yang tepat. “Karena dekat dengan SMA (SMAN 6 Surabaya), banyak anak-anak yang suka main ke sini (Balai Pemuda).”



Sebagai area kompleks serbaguna, Balai Pemuda menjadi tempat menggelar beberapa acara antara lain bazaar, seminar, pameran, audisi, bahkan pesta pernikahan. Tak heran jika Balai pemuda masih memiliki tempat di hati sebagian besar masyarakat Surabaya. Sebagai ladang mencari nafkah, sebagai tempat mengapresiasi seni, bahkan sebagai tempat menggantungkan cita-cita generasi penerusnya. Sekalipun telah menjadi wajah Surabaya selama 102 tahun, Balai Pemuda akan selalu ‘muda’ di antara pemuda-pemuda Surabaya.


Lintas Generasi: Haji Abdullah, Karjian, dan Miftakhul Fauzi, para pemuda Balai Pemuda.



Virginia L. Gunawan, 51408001

Tidak ada komentar:

Posting Komentar