Senin, 14 September 2009

Tugas TMMB-Lydia EP/51408058


Rujak Achmad Jais Salah Satu Icon Kota Surabaya

Bertempat di jalan Achmad Jais no 40, Surabaya terdapat sebuah ruko dan depot rujak cingur yang berdiri sejak 1969 hingga sekarang. Depot ini dirintis oleh Ny.Ng Giok Tjoe(80) dan sekarang dilanjutkan oleh putrinya Ong Sioe Sin(56).”iya depot ini memang dibuka sejak aku masih baru pindah dari RRC ke sini, soale ikut suami, sekarang wes tua ya ganti anakku, aku cuma ngewangi ae” ujar Ny.Ng Giok Tjoe saat ditanya asal mula dari bukanya depot ini. Depot ini buka setiap hari mulai pukul 10.00-17.00(senin-sabtu) dan 11.00-17.00 (minggu). Keistimewaan dari rujak cingur ini adalah bumbunya yang lezat dan bisa bertahan hingga 5jam untuk rujak petis dan bumbu untuk rujak manis bisa bertahan hingga 1minggu. Cingur yang bersih dan empuk karena direbus hingga 2hari lamanya juga tempe yang renyah dan tahan udara juga bahan-bahan pilihan lainnya yang berkualitas tinggi juga menjadi keistimewaan dari rujak ini. Selain itu rujak cingur ini memiliki keunikan karena harganya yang cukup mahal (Rp 35.000,-), rujak ini juga menjadi langganan dari beberapa pejabat pemerintahan sejak era Alm.Soeharto dan menjadi langganan beberapa artis ibu kota. Depot rujak cingur ini juga sering diliput di berbagai media cetak dan elektronik(televisi). “bu Tutut itu dari dulu sejak alm. pak Harto jek jaya sampe sekarang tiap dateng ke Surabaya mesti beli rujak banyak, mantan gubernur Sutiyoso, artis Yuni shara, ya banyak lagi yang lainnya, pak Bondan sama kru Trans TV(Wisata Kuliner) juga ke sini kapanane” ujar Ny.Ong Sioe Sin saat ditanya mengenai rujak cingurnya yang menjadi langganan banyak pejabat dan artis.

Minggu, 13 September 2009

tugas tmmb_ theresia devy 51408012




Surabaya(9/9) Siang itu Balai Pemuda terdapat sebuah ruang yang didalamnya terpampang berbagai jenis lukisan. Pameran lukisan bertema Kurang Puas ini digagas oleh 4 pemuda yang ingin menunjukan eksistensi mereka terhadap seni, Ainur, Hendra, Rio dan Fauzi. “Temanya Kurang Puas, sebagai manusia kita tidak akan pernah puas untuk belajar karena itu kami ingin lebih menggali lagi apa yang kami punya.” Kata Rio ketua dari komunitas Efek Samping. Berawal dari dibawah almamater UNESA dan jurusan seni rupa, meskipun ada yang sudah lulus, keinginan mereka untuk terus memacu semangat serta mengeksplorasi kreaifitas dari seni itu sendiri. Disamping itu, pesan pendek yang dikirim oleh Fadjar Djunaedi perupa batu kepada Hendra Wahyu yang bertuliskan “Logikae lek kita mumet pasti kita ditantang oleh kreatifitas… itulah hebate seni, biar kita gak puas dengan yang sudah ada, tapi belajar terus gak ono marine….” Juga memacu mereka untuk membuat pameran ini. Sedangkan untuk nama komunitas “Efek samping” ini dipilih agar orang setelah melihat karena mereka dapat merasakan efek sampingnya, seperti efek samping dari orang sakit setelah minum obat dapat sembuh. Komunitas ini baru berdiri 5 bulan sejak bulan April lalu. Namun mereka langsung berkarya dengan mengadakan pameran yang digelar pada tanggal 7-14 Sepetmber 2009 di Galeri Surabaya Balai Pemuda. Mereka memilih tempat di Balai pemuda karena mereka ingin membuat pameran di luar kampus dan mencari tempat yang strategis dan pusat dari seni. Terdapat 14 lukisan yang mereka tampilkan sesuai dengan ciri khas tiap-tiap pelukis. Ainur dengan bibir merah, Rio dengan bola lampu, Hendra yang lebih mengarah pada gambar mobil dan Fauzi yang mengekspose gambar kacang. Kedepannya komunitas Efek samping tidak akan berhenti hanya sekedar pameran di Surabaya, mereka akan meluaskan sayapnya tingkat nasional pada Desember tahun ini

tugas tmmb-theresia deby 51408012

Tugas TMMB-Theresia Devy 51408012
Surabaya(9/9) Siang itu Balai Pemuda terdapat sebuah ruang yang didalamnya terpampang berbagai jenis lukisan. Pameran lukisan bertema Kurang Puas ini digagas oleh 4 pemuda yang ingin menunjukan eksistensi mereka terhadap seni, Ainur, Hendra, Rio dan Fauzi. “Temanya Kurang Puas, sebagai manusia kita tidak akan pernah puas untuk belajar karena itu kami ingin lebih menggali lagi apa yang kami punya.” Kata Rio ketua dari komunitas Efek Samping. Berawal dari dibawah almamater UNESA dan jurusan seni rupa, meskipun ada yang sudah lulus, keinginan mereka untuk terus memacu semangat serta mengeksplorasi kreaifitas dari seni itu sendiri. Disamping itu, pesan pendek yang dikirim oleh Fadjar Djunaedi perupa batu kepada Hendra Wahyu yang bertuliskan “Logikae lek kita mumet pasti kita ditantang oleh kreatifitas… itulah hebate seni, biar kita gak puas dengan yang sudah ada, tapi belajar terus gak ono marine….” Juga memacu mereka untuk membuat pameran ini. Sedangkan untuk nama komunitas “Efek samping” ini dipilih agar orang setelah melihat karena mereka dapat merasakan efek sampingnya, seperti efek samping dari orang sakit setelah minum obat dapat sembuh. Komunitas ini baru berdiri 5 bulan sejak bulan April lalu. Namun mereka langsung berkarya dengan mengadakan pameran yang digelar pada tanggal 7-14 Sepetmber 2009 di Galeri Surabaya Balai Pemuda. Mereka memilih tempat di Balai pemuda karena mereka ingin membuat pameran di luar kampus dan mencari tempat yang strategis dan pusat dari seni. Terdapat 14 lukisan yang mereka tampilkan sesuai dengan ciri khas tiap-tiap pelukis. Ainur dengan bibir merah, Rio dengan bola lampu, Hendra yang lebih mengarah pada gambar mobil dan Fauzi yang mengekspose gambar kacang. Kedepannya komunitas Efek samping tidak akan berhenti hanya sekedar pameran di Surabaya, mereka akan meluaskan sayapnya tingkat nasional pada Desember tahun ini.

Tugas TMMB - Rony Wijaya 51408106


Tugas TMMB - Rony Wijaya 51408106



Hendra Wahyu Darmawan

-------------------------------------------------------------------------------------------------
”Sentuhan” Politik di atas Canvas

Berpegang pada kemampuan seni rupa, pemuda asal Mojokerto, Hendra Wahyu Darmawan (23), menggambarkan kondisi politik Indonesia melalui lukisan buatannya. Lukisan Hendra yang bertajuk Red, Yellow, Green, Blue, ikut terpampang dalam suatu pameran lukisan yang diadakan sejak dua hari yang lalu (7/9) di Galeri Surabaya. Bungsu empat bersaudara kelahiran Mojokerto, 26 Oktober 1986 ini, mengatakan bahwa butuh waktu kurang lebih satu bulan untuk menyelesaikan lukisan tersebut.
Lukisan berukuran 180x140 cm yang ia buat di sebuah studio dekat rumah kontrakannya ini, menerangkan secara umum kondisi politik di Indonesia. Hendra menjelaskan bahwa di Indonesia terdapat banyak partai politik yang saling berkompetisi untuk menduduki kursi pemerintahan, namun tidak semuanya dapat memperoleh suara yang banyak. Gambar mobil-mobil yang berwarna merah, kuning, hijau, dan biru pada lukisannya, ia ilustrasikan sebagai warna dari partai-partai kuat yang ada di Indonesia.
“Mobil-mobil itu saya buat dengan susunan tertentu agar bisa timbul kesan keruangan yang menarik,” kata Hendra yang gemar fotografi, menggambar, dan main game.
Sedangkan gambar orang berlabelkan tanda STOP di mulutnya, mengilustrasikan dirinya yang tidak perlu berbicara apa-apa. Hal ini karena memang seperti itulah kenyataan yang terjadi di Indonesia.
Anak dari pasangan Ali Subiakto dan Kusti Nurdayah ini menerangkan, bahwa ia mengambil model mobil karena terinspirasi pada masa kecilnya. Mobil-mobilan adalah mainan pertama yang ia dapat dari kedua orang tuanya. Kenangan inilah yang masih membekas di benaknya, sehingga pada setiap karyanya ia selalu menyertakan model mobil-mobilan.

Tugas TMMB_Vera Arindita 51408035

Tours & Pilgrims Sepi Order Menjelang Libur Lebaran










Gambar 1. ki-ka : Waitomo Caves, Terusan Suez, Yerusalem, Gyeongbok Palace


Kunjungan ke tempat-tempat bersejarah di Selandia Baru, Terusan Suez, Israel, Seoul dan tempat tujuan wisata menarik lainnya seperti foto-foto di atas mengalami penurunan dalam setengah tahun belakangan, terlebih pada musim lebaran ini. Fenomena sepinya kunjungan ke negeri orang tersebut dinyatakan oleh salah satu agen penjual jasa tours & pilgrims, Via Glorie. Sepinya order tampak dalam suasana perkantoran yang bertempat di Jalan Yos Sudarso 17C ini, tak ada satu pun pengunjung yang datang untuk memesan atau sekedar bertanya untuk bahan referensi mereka liburan.

Feber Kurniawati, salah satu karyawati agen tours ini pada saat diwawancara mengemukakan tentang beberapa kemungkinan penyebab penurunan minat masyarakat untuk menggunakan jasa agen tours & pilgrims-nya. ”Sepertinya, pengaruh selesai perang dan ancaman akan adanya teroris berdampak pada penurunan minat mereka untuk bepergian.” Rupanya keresahan tersebut mengalahkan perhatian masyarakat akan menariknya tempat-tempat bersejarah seperti ke Waitomo Caves di Selandia Baru, Terusan Suez, Tanah Terjanji Yerusalem di Israel, ataupun ke Museum Gyeongbok Palace di Seoul. Lebih dari itu, dirinya juga menambahkan kalau para penumpang sekarang sudah lebih pandai mengatur jadwal kepergian mereka sendiri, ”Kita hanya mendapat order penjualan tiket pulang-pergi dan mengatur penginapan mereka, sedangkan untuk tour giude-nya sendiri sekarang kurang diminati karena banyak keluarga yang merasa tidak nyaman dan kurang leluasa.” Itulah beberapa alasan yang menyebabkan sepinya tour kali ini.

Sejalan dengan kunjungan ke luar negeri, karyawati berumur 24 tahun ini juga mengatakan bahwa penjualan tiket pesawat untuk dalam negeri juga mengalami penurunan dalam momentum yang sama yaitu Idul Fitri daripada tahun lalu , walaupun tidak signifikan. ”Kalau tahun 2008, sekitar tiga puluh hari menjelang Idul Fitri sudah banyak yang memesan tiket, tetapi tahun ini berbeda, terasa sepi, bahkan untuk penjualan tiket dengan tujuan ke kota-kota menarik seperti Jakarta dan Denpasar,” begitu tuturnya. ”Lagipula orang sekarang kebanyakan lebih menggunakan alternatif jalan darat untuk mudik ke daerah yang tidak terlalu jauh daripada membeli tiket yang harganya cenderung melambung.” Tampaknya hal ni juga didukung oleh situasi jalan raya yang sudah cukup kondusif.

Jadi, pada tahun ini bagi para agen tours & pilgrims agaknya harus meningkatkan teknik promosi yang lebih baik lagi. Selain itu, untuk para keluarga yang sudah merencakan liburan sebaiknya segera memesan tiket sebelum hari-H Idul Fitri tiba, mengingat sudah semakin dekatnya, H-7 menjelang perayaan Hari Raya Umat Islam tersebut dan tidak perlu takut karena setiap Kepolisian Daerah akan melakukan pengamanan ekstra terkait dengan ancaman adanya pengeboman.


Vera Arindita
51408035

Tugas TMMB - Lavi Marcheliena (51408045)


Dari Dulu Suka Bersih-bersih

Surabaya - Sudah 10 tahun Pak Samin bekerja pada kotamadya sebagai tukang sapu jalan. Ini berawal dari hobinya yang suka membersihkan lingkungan saat dulu masih tinggal di kampong halamannya di Jawa Tengah. Tuntutan kebutuhan keluarga yang semakin meningkat membawa bapak yang berperawakan kecil ini untuk mencari penghasilan yang lebih baik di ibukota, Surabaya. Berangkat dari hobi suka bersih-bersih inilah yang membuat Pak samin memutuskan untuk melamar pekerjaan sesuai dengan kesenangannya, yaitu pegawai dinas kebersihan kota.
Siang hari yang terik tidak menyurutkan niat Pak Samin untuk menjalankan pekerjaannya menyapu jalan. Safari kuning yang menandakan bahwa ia adalah petugas kebersihan nampaknya membuat ayah dari 2 orang anak ini sedikit kepanasan. Hanya dengan berpayungkan topi kuning, ia menyapu daun-daun kering dan sampah-sampah kecil yang mengotori sepanjang jalan Pemuda, sambil sesekali mengusap keringat yang mengalir di dahinya. Sapu korek dan karung sampah selalu menemaninya bekerja mulai dari pukul 14.00 hingga pukul 22.00.
Di Surabaya Pak Samin tinggal seorang diri, ia tinggal di Sidosermo 998 B no 5. Tiga bulan sekali ia pulang ke Jawa Tengah untuk bertemu dengan anak dan istrinya yang bekerja sebagai petani. Sebelum berangkat kerja, pagi harinya Pak Samin menyempatkan waktu untuk membersihkan lingkungan tempat tinggalnya saat ini. Setiap hari ia berangkat dengan mengayuh sepeda dan menempuh waktu kurang lebih 30 menit untuk tiba di tempat kerjanya., tapi ia melakukan semua itu dengan senang hati, tak pernah sedikitpun ia mengeluh, walaupun sedih berada jauh dari keluarga. Begitu ditanya soal gaji perbulan , ia menyebutkan angka 900 ribu rupiah. “ Ya pokoknya cukup untuk member makan keluarga dan menyekolahkan anak-anak di kampung, kalau saya disini makan ya seadanya saja.” Ujar bapak yang berusia 40 tahun ini sambil tersenyum.
Begitu besar cintanya pada lingkungan, tak segan-segan Pak Samin menegur orang yang membuang sampah sembarangan. Walaupun pekerjaan ini tidak bisa dianggap enteng, tapi semangatnya untuk menciptakan kebersihan patut diacungi jempol. Entah apa yang akan terjadi pada dunia ini jika tidak ada orang seperti Pak Samin.

Tugas TMMB - Bakri si Penjual Bakso

Proses wawancara dengan Pak Bakri

Pak Bakri sedang membuat es degan

Pembeli bakso Pak Bakri

SURABAYA, (09/09/2009)- Ada acara bazaar Ramadhan yang dilaksanakan di Balai Pemuda. Bazaar ini mulai dari buku dan majalah bekas, makanan, sampai pernak-pernik untuk Lebaran. Ada juga pameran lukisan yang diadakan di Balai Pemuda. Di depan tempat pameran lukisan berlangsung ada satu penjual bakso yang ramai dikunjungi oleh orang yang ada di Balai Pemuda.
Nama penjual bakso itu adalah Pak Bakri (42). Pak Bakri lahir di Lamongan pada tanggal 18 April 1968, mempunyai istri yang bernama Arofah dan 1 anak perempuan bernama Vina Fatmawati. Mulai pindah ke Surabaya pada tahun 1989, tempat tinggalnya di Tambak Pring Timur gang 6 no 24. Dahulu Pak Bakri berjualan tetap di jalan Boulevard, tetapi pada Oktober 2008 ada penggusuran, sehingga Pak Bakri tidak dapat berjualan. Sebelum berjualan bakso, Pak Bakri adalah seorang pengangguran.
Selama hampir 8 bulan menganggur, akhirnya sekarang dapat berjualan lagi setelah mendapat tempat berjualan yaitu di Balai Pemuda, walaupun Balai Pemuda bukan tempat berjualan tetap, “kalau saya diusir ya saya baru pindah, kalau tidak diusir ya saya berjualan di sini terus”, katanya. Pak Bakri baru berjualan di Balai Pemuda sekitar 8 bulan, tetapi sudah ramai oleh pembeli. Harga bakso Pak Bakri adalah Rp 5000/ porsi dan harga es degannya adalah Rp 3000/ gelas.
Selama hampir 20 tahun di Surabaya, Pak Bakri bekerja sebagai penjual bakso dan es degan. Ide berjualan bakso adalah ide yang turun temurun dari keluarganya, dan baksonya pun buatan sendiri. Pak Bakri juga mencari degannya sendiri, tidak beli di pasar. Pak Bakri mulai berangkat berjualan dari rumah jam 11 siang dan pulang jam 10 malam, kadang-kadang baksonya laris manis, tetapi kadang-kadang juga sepi. Mengenai pembelinya, pembelinya variatif, segala usia, tetapi rata-rata adalah kaum perempuan yang kebanyakan makan bakso.
Kalau ditanya soal modal, “modal saya adalah modal nekat, ya seperti saya ini modal dengkul”, katanya sambil tertawa. Suka duka Pak Bakri adalah sukanya kalau di Balai Pemuda ada acara jadi baksonya bisa laris, selain itu kalau lagi dapat untung. Omset yang didapat Pak Bakri rata-rata adalah Rp 50.000, tetapi itu juga tidak menentu, tergantung keadaan. Dukanya adalah karena berjualannya mendorong rombong dari rumah sampai ke tempat berjualan jauh.
Saat ditanya tentang bagaimana berjualan pada saat hari Lebaran? “Pada waktu hari biasa dan Lebaran terasa sekali bedanya, tidak selaris biasanya karena orang-orang juga pada puasa”, katanya. Harapan seorang penjual bakso seperti Pak Bakri adalah ada sedikit kemujuran, dan ada perbedaan dari kemarin-kemarin atau adanya perubahan.

Michael Ardian
51408099

tugas tmmb-rahayu florensia 51408047

Hari-hari berpuasa bagi umat Muslim telah berjalan lebih dari setengah bulan, dan menandakan bahwa Lebaran pun akan segera tiba. Masyarakat Muslim tentunya sedang mempersiapkan banyak hal untuk Lebaran mereka tahun ini. Dapat dilihat banyak toko-toko atau supermarket yang semakin marak menjual barang-barang atau makanan-makanan untuk keperluan Lebaran. Maka, pemkot mengadakan suatu acara yang bertema lebaran dengan judul Ramadhan Fair. Acara ini diadakan di Balai Pemuda, pada tanggal 9 sampai dengan 12 September 2009, pada pukul 16.00 sampai 24.00. Acara yang setiap tahun diadakan ini mengundang parade band religi seperti Maximum, Funk Java, Krissolit, Hutoma, Local Host, Princess, Ramadhani dan Pungky Deaz.
Selain ada acara-acara band, Ramadhan Fair ini juga mengadakan Kuliner Suroboyo dan Bazar Sembako. Balai pemuda didekor sedemikian rupa, dengan adanya panggung dan adanya stan-stan untuk sembako-sembako yang dihitung berjumlah sekitar kurang lebih 40 stan. Ada stan yang menjual baju, souvenir Surabaya, makanan berat seperti sate, makanan siap saji, makanan ringan, bahan-bahan pokok sehari-hari, perusahaan daerah potong hewan, dan sebagainya. Pada dasarnya, seperti bazar-bazar lainnya, harga yang ditawarkan oleh penjual stan adalah harga yang murah dan dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Dan seperti tujuan acara ini diadakan adalah supaya masyarakat dapat memenuhi kebutuhan mereka untuk sehari-hari ataupun untuk keperluan lebaran, namun tetap mendapatkan harga yang lebih murah daripada membelinya di toko-toko atau supermarket. “Ya, dengan adanya bazar ini, semoga masyarakat kebutuhannya dapat terpenuhi, kan harganya lebih murah daripada yang ada di toko-toko” kata Ibu Fitrah, salah satu orang pemkot yang berada di Balai Pemuda saat semua penjaga stan sedang bersiap-siap untuk membuka stan.

tugas TMMB-JESSICA

JESSICA
51408046

Siang itu sekitar pukul 14.00, Rabu, 09 September 2009, jalan disekitar Gedung Balai Pemuda terasa ramai. Banyak mobil yang lalu lalang melintasi Jalan Pemuda. Beberapa aktivitas masih berjalan seperti biasa mesti dalam suasana puasa. Terlihat juga beberapa kuli bangunan dan pekerja sibuk melakukan pekerjaannya dibawah teriknya sinar matahari. Adapun proyek pembangunan berada disebelah Gedung Balai Pemuda, Surabaya. Proyek pembangunan milik pemerintah daerah tersebut, rencananya akan di gunakan untuk perpustakaan daerah dan tempat konser. Gedung tersebut di bangun di atas luas tanah 45x50m2. Diperkirakan bangunan tersebut akan selesai pada 23 Desember 2009 hanya untuk struktur bawah saja. Biaya proyek tersebut cukup menelan biaya yang fantastis, sekitar Rp. 6.750.850.850.
Pada proyek pembangunan pemerintah daerah tersebut, sepenuhnya dikerjakan oleh PT. Citra Mandiri Cipta yang menggeluti bidang kontraktor pembangunan. Backtiyar, 33 tahun, bapak satu anak ini, menjadi set engineer dalam proyek tersebut. Lulusan Teknik Sipil, Universitas Teknologi Surabaya ini bekerja sebagai orang teknik yang turun lapangan. Selain itu, beliau juga membuat laporan rutin dan progress harian maupun bulanan. Selain set engineer, masih ada mandor sipil yang bertugas mengawasi pembangunan tersebut. Trimo, pria asal Semarang ini, bekerja dalam hal struktur, penyetalan kolom tiang, dan pengecoran finishing bata. Beliau memiliki 30-50 pekerja khusus sipil yang bekerja mulai jam 08.00-18.00 dilanjutkan jam 19.00-22.00. setiap pekerja tersebut, diberikan gaji sekitar 40.000 sampai 50.000. Sehingga biaya untuk pekerjaan sipil tersebut mengeluarkan biaya sekitar Rp. 500.000.000,-

Tugas TMMB - Kisah Penjual Bakso Balai Pemuda


foto dengan sang suami


proses wawancara dengan Ibu Arofah

SURABAYA- Balai pemuda merupakan salah satu tempat bersejarah yang berada di Surabaya. Pada hari Rabu 9 September 2009 di Balai Pemuda terdapat bazaar Ramadhan yang menjual berbagai macam pakaian, makanan, buku-buku bekas, dan pameran lukisan. Terdapat satu Ibu yang bernama Arofah yang berjualan bakso bersama sang suami di sana. Wanita kelahiran Surabaya, 15 Maret 1973 in tidak hanya berjualan bakso saat ada acara di Balai Pemuda, tetapi ia setiap hari berjualan di sana dan sudah berjalan selama 8 bulan, sebelumnya pada tahun 1990-an ia berjualan nasi bebek dan gado-gado di Embong kembar, Surabaya, yang kemudian di gusur dan mengakibatkan Arofah dan suami menganggur kurang lebih 8 bulan dan hanya mengandalkan orang tuanya untuk mencukupi kehidupannya sehari-hari. Dan pada tahun 1991 Arofah mencoba berjualan bakso bersama suaminya, Bakri(42), yang di awali dengan berjualan keliling. Di samping berjualan bakso, Arofah adalah seorang Ibu rumah tangga yang mempunyai satu anak bernama Vina Fatmahwati yang saat ini merupakan mahasisiwi Universitas Politeknik Indonesia, Surabaya.
Dan pada tahun 2008 akhir, Arofah mulai berjualan di Balai Pemuda, yang awalnya di usir untuk tidak berjualan d sekitar Balai pemuda. Karena ketekatan, dan kepercayaan yang ia miliki, akhirnya ia diijinkan untuk berjualan di sekitar Balai Pemuda dan mendapatkan banyak pelanggan, terutama anak kalangan muda yang suka makan bakso. Satu porsi bakso berharga 5000 rupiah. Selain menjual bakso, Arofah juga menjual es degan, yang dijual per gelas dengan harga 3.000 rupiah. Dengan menjual bakso dan es degan yang bemodal grobak dan tenaga, Arofah sudah bisa mengembalikan modal dan mendapat untung kurang lebih 30% persen. Tetapi Arofah tidak bangga dan sombong dengan hasil yang diperolehnya, ia akan tetap terus bekerja keras bersama sang suami untuk dapat mencukupi kehidupannya dan menyekolahkan anaknya sampai lulus.

Rony Gunawan
51408085

tugas tmmb , aprilia (51408071)

Pak Samin adalah seorang penyapu jalan yang taat akan agamanya dan rajin serta ramah, hal itu terlihat pada senyum dan tawa yang selalu menghiasi wajahnya yang tampak kecoklatan karena terjemur matahari. Seorang pria kurus dengan tinggi sesekitar 165 cm ,dengan wajah dan tubuh kecoklatan dikenal orang-orang sekitarnya dengan nama Pak Samin. Tak terasa sudah 10 tahun ia bekerja sebagai penyapu jalan, sejak pertama kali temannya memperkenalkan ia pada salah seorang pegawai pemerintah kota , yang memberinya pekerjaan sebagai penyapu jalan. Sepanjang jalan tunjungan dari Monumen Kapal Selam sampai area air mancur di tengah perempatan depan Gedung Pemuda, dari pukul 14.00 sampai pukul 22.00, para pengendara yang lewat pasti akan menemukan seorang penyapu jalan , yaitu Pak Samin. Siang yang terik , jalan yang ramai akan hiruk pikuk kendaraan, serta sampah dan dedaunan pohon yang gugur di tepi jalan memenuhi jalan tunjungan yang harus disapu Pak Samin. Hal ini tak membuatnya takut atau bermalas-malasan bekerja, karena bersih-bersih adalah hal yang paling disukainya. . Keteguhan dan kerendahan hati membuatnya terus hidup dan bekerja berlainan kota dengan keluarganya. Walau kadang terasa rindu bertemu keluarga , anak dan istrinya, Tetapi Pak Samin sabar menunggu tiga bulan sekali untuk pulang ke kampung halamannya. “Asal keluarga senang, saya juga senang.”, begitu katanya.
Pak Samin adalah seorang yang taat beragama. Ia adalah seorang muslim, bulan September ini adalah bulan yang penuh berkah dan bulan yang membahagikan bagi seluruh umat beragama muslim, begitu juga dengan Pak Samin. Selama bulan puasa ini , Pak Samin juga ikut berpuasa walau pekerjaan kadang membuatnya lelah. Menahan nafsu makan adalah hal yang mudah baginya, tetapi beberapa hari ini siang terasa sangat panas dan menyengat , hal ini membuatnya tidak kuat untuk menahan minum. Tetapi selama ia kuat kuat menjalani puasanya , maka ia akan akan menjalaninya sampai nanti wakunya berbuka. Pak Samin memasrahkan hidupnya pada Tuhan, ia tak pernah menyalahkan atau berpikir , kenapa ia hanya menjadi orang kecil, hal ini malah membuatnya semakin bersemangat dan giat bekerja. Demi memenuhi seluruh kebutuhan keluarganya. Dengan gaji Rp900.000 sebulan, ia sudah merasa cukup , walau sebenarnya kurang. Ia tak mendapatkan THR di bulan Lebaran ini, hal itu tak membuatnya malas, ia tetap melaksanakan tugasnya dengan sepenuh hati.
Seperti halnya umat beragama Islam yang lain, Pak Samin juga sudah tak sabar menunggu datangnya Lebaran ,dimana tanggal 20 September nanti ia dapat bertemu dan berkumpul bersama keluarga, anak dan istri yang dicintainya, di kampung halamannya di Jawa Tengah. Lebaran kali ini ia memohon berkat pada Tuhan Yang Maha Esa agar memberinya banyak rejeki, kesehatan , kebahagiaan pada keluarganya.


KISAH SEORANG PENYAPU JALAN

TUGAS TMMB-EFEK SAMPING DAN EKSPLORASI SENI



Berawal dari sebuah SMS singkat, Ainur, Fauzi, Hendra, dan Rio, yang tergabung dalam komunitas “Efek Samping”, mengadakan pameran karya seni bertajuk Kurang Puas. Pameran yang diadakan di Galeri Surabaya dari tanggal 7-14 September 2009 tersebut merupakan bentuk “kekurangpuasan” komunitas Efek Samping terhadap ilmu seni rupa yang telah mereka dapat selama ini.

Pesan singkat tersebut berbunyi, ‘Logikae lek kita mumet pasti kita ditantang oleh kreativitas…Itulah hebate seni, biar kita gak puas dengan yang sudah ada, tapi belajar terus gak ono marine…”. Hendra Wahyu menerima SMS tersebut dari seorang perupa Batu, Fajar Djunaedi,. SMS ini yang akhirnya mendorong mereka untuk mengadakan pameran sebagai bukti eksplorasi mereka terhadap seni yang tidak pernah mati. Saat merencanakan pameran perdana mereka tersebut, keempat orang ini merasa perlu membuat suatu identitas. Atas dasar tersebut, muncullah komunitas “Efek Samping” yang terdiri atas dua orang mahasiswa semester akhir serta dua orang alumnus Seni Rupa UNESA, yaitu Miftakhul Fauzi, Ainur, Hendra Wahyu, serta Rio Siigit. Sama seperti tulisan efek samping yang sering kita lihat di kemasan obat, nama efek samping dipilih untuk menggambarkan efek yang akan diterima oleh seorang seniman bila terlalu banyak bergulat dengan karya seni.

SIMBOL SENIMAN
Pameran ini membutuhkan persiapan selama lima bulan, dimulai sejak bulan April lalu. Dalam pameran perdana ini, Komunitas Efek Samping menghadirkan empat belas karya yang berbeda dengan empat simbol utama yang masing-masing mencirikan senimannya. Ainur memilih simbol bibir merah sebagai simbol dari seorang wanita tuna susila. Ia mengangkat tema ini dari empat karyanya karena ia melihat bahwa tidak semua orang mengerti identitas dari seorang pelacur, masyarakat terburu-buru memberi label jelek. Selain itu, salah satu karyanya yang berjudul “Is ‘Ripped’" merupakan gambaran kekecewaan Ainur terhadap apreasisi masyarakat yang rendah terhadap seni yang mengangkat unsur sensual. Fauzi sendiri memilih kacang sebagai obyek utama dari kelima karyanya karena bentuknya yang unik dan mudah dikenali orang. Kelima lukisan yang dibuat menggambarkan karakter dirinya yang suka memberontak dan mendobrak batas-batas seni untuk menghasilkan karya yang lain dari biasanya. Seniman berikutnya, Hendra,memilih menggunakan mobil sebagai simbol karyanya. Ia mengatakan bahwa mobil adalah simbol kesenangan dirinya. Dua dari karyanya menggambarkan isu politik yang sedang marak saat ia menyelesaikan karyanya yaitu saat pileg dan hasil empat besar Pemilu Presiden keluar. Sementara dalam karya yang berjudul “Warning (!/?)” ia mencoba mengkritisi tulisan warning yang tertera di kemasan rokok, sekalipun tertulis, para perokok tidak pernah menghiraukan peringatan tersebut. Lukisan “Warning (!/?) sekaligus merupakan gambaran diri Hendra yang berusaha melepaskan ketergantungannya dari rokok. Lukisan seniman terakhir, Rio, bisa dikenali dari simbol bola lampu yang menurutnya adalah lambang kreativitas.
Pameran ini akan berlangsung selama seminggu penuh. Rencananya, Komunitas Efek Samping akan melanjutkan pameran berikutnya dengan karya yang berbeda di Batu, Malang pada bulan Desember nanti.

BY: vassilisa Agata / 51408041

Tugas TMMB Marsyela 51408111

Roadshow Telkomsel untuk Menggenjot Penjualan Iphone 3G

Surabaya – Perusahaan operator telepon genggam Telkomsel mengadakan roadshow di Surabaya Town Squer atau yang lebih dikenal SUTOS. Acara tersebut dimulai dari hari Kamis (10/9) lalu sampai dengan Minggu (13/9) . Telkomsel mengadakan acara tersebut di atrium SUTOS dengan mendirikan tenda yang didalamnya diisi dengan stand yang berbeda-beda disisi kanan dan kirinya untuk beberapa merk telepon genggam, ditengah tenda terdapat sedikit ruang untuk panggung kecil yang ditempati oleh tiga orang mc yang meramaikan suasana acara itu dengan diadakannya games dan kuis untuk para pengunjung serta dipojok kiri tenda terdapat stand untuk penukaran poin bagi para pelanggan setia Telkomsel. Pada hari Kamis dan Jumat acara akan dimulai dari pukul 10.00 siang sampai dengan pukul 22.00 malam, sedangkan hari Sabtu dan Minggu dimulai dari pukul 11.00 siang sampai dengan pukul 23.00 malam. “Acara ini sudah mulai ramai dikunjungi orang dari pagi karena biasanya mereka datang untuk menukarkan poin,“ kata Novi, salah seorang panitia acara tersebut. “Telkomsel mengadakan acara ini tujuan utamanya untuk menggenjot penjualan Iphone 3G menyusul datangnya Iphone seri 3G S beberapa pekan mendatang serta mengenalkan merk telepon genggam Nexian dan TJE yang kini juga bekerjasama dengan Telkomsel,“ lanjut Novi. Dua hari diadakannya acara tersebut dikatakan berhasil terbukti dari peningkatan penjualan Iphone 3G. “ Iya, berhasil acaranya kelihatan dari hasil penjualan Iphone 3G yang sepaket dengan nomer telepon dari Telkomsel meningkat drastis,” papar Novi mengakhiri pembicaraan.

Marsyela 51408111

RAGAM PENCAK SILAT

Olahraga tradisional banyak ragamnya, namun dewasa ini olahraga tradisional mengalami kemunduran yaitu dengan tidak adanya minat atau regenerasi. Salah satu olahraga tradisional adalah Pencak Silat.

Pencak Silat sendiri sudah ada kira-kira sejak abad ke XI, Pencak Silat sendiri memiliki empat aspek yang dipelajari, yaitu seni, beladiri, olahraga, dan juga olahbatin.

Pencak Silat dikatakan mempelajari unsur seni karena menampilkan wujud budaya dalam bentuk gerak dan irama yang diselaraskan dengan keseimbangan dan keserasian. Dan juga Pencak Silat mempelajari unsur beladiri yaitu sudah sangat jelas pencak ini digunakan untuk mengolah diri agar menjaga dari ancaman yang ada. Unsur yang berikutnya yang dipelajari yaitu olahraga, karena lewat pencak ini dapat digunakan untuk mendapat kebugaran, ketangkasan ataupun prestasi, Pencak Silat sendiri juga mempelajari unsur olahbatin, yaitu membentuk batin agar memiliki nilai luhur dan juga etika sesama pendekar pencak.

Dalam Pencak Silat sendiri banyak aliran dan berbagai macam. “Ada 36 jenis aliran yang berbeda dan memiliki karakteristik yang berbeda pula”, ujar bapak Boyke yang sudah menjabat sebagai anggota organisasi selama 4 periode dan sekarang selaku sekretaris umum IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia) cabang Surabaya.

Dengan suasana canda tawa bapak Boyke menerangkan bahwa dari 36 aliran itu ada beberapa yang terkenal, yaitu aliran Tapak Suci, Perisai Diri dan juga Joko Tole. Adapun perbedaan yang mendasar yaitu jika di aliran Tapak Suci itu adalaha aliran Muhammadiah dan berasal dari Yogyakarta, sedangkan Perisai Diri itu sendiri adalah aliran yang menggabungkan seni silat tardisional Indonesia dengan Kwantung Cina. Berbeda pula dengan aliran Joko Tole adalah aliran Penck Silat yang asli Madura. Bapak Boyke sendiri sudah berkecimpung di dunia Pencak Silat selama 30 tahun, dan bapak Boyke hanya berpesan yang terakhir kepada setiap anak muda untuk sadar dan mau memelihara seni budaya leluhur asli Indonesia ini.

Henokh Charis 51408066

15 tahun Lebih bersama IPSI


IPSI adalah singkatan Ikatan Pencak Silat Indonesia, sebuah lembaga yang memantau pencak silat di seluruh Indonesia. Begitu kata Pak Boyke Santoso, sekretaris umum IPSI Surabaya selama empat periode. Pak Boyke yang saat ini telah memiliki 2 orang anak, mengaku sudah 30 tahun menyukai pencak silat. Pak Boyke menyukai pencak silat sejak kecil, kesukaannya pada pencak silat tidak pernah hilang sampai saat ini. Hal ini yang menyebabkan Pak Boyke dengan setia menjadi sekretaris umum selama 4 periode atau 15 tahun lebih. Menurut Pak Boyke yang merupakan lulusan SMA Petra 1 yang lulus pada tahun 1988, sudah jarang orang yang menyukai pencak silat seperti dirinya. Kebanyakan merasa pencak silat tidak menghasilkan uang dan membuang waktu. Pak Boyke mengikuti IPSI selama 15 tahun lebih bukan karena uang, karena memang uang yang didapat tidak banyak. Pak Boyke mengikuti IPSI karena kecintaanya pada pencak silat, keluarganya pun mendukung kecintaannya pada pencak silat tersebut. “Anak muda jaman sekarang mana ada yang mau kayak saya ini, buat mereka pencak silat tidak ada artinya” kata Pak Boyke. Beliau berharap makin banyak orang yang mencintai pencak silat agar pencak silat tidak hilang dari kebudayaan Indonesia.
Fransiska A./51408103

Suara Hati Anggota DPRD Surabaya


SUARA HATI ANGGOTA DPRD SURABAYA
SURABAYA – Gedung DPRD siang itu (9/9) tampak lengang, hanya terdapat beberapa petugas yang berjaga di bagian depan gedung yang terletak di jalan Yos Sudarso tersebut. Berita di media massa mengenai mobil dinas yang cukup santer di beritakan di media massa belakangan ini ternyata tidak mempengaruhi suasana di gedung tersebut.
Meski keadaan di gedung DPRD tidak terganggu akan tetapi, mantan anggota DPRD Surabaya yang tak mau mengembalikan mobil dinas (mobdin) tampaknya cukup mengusik anggota DPRD yang baru. Ini terlihat dari pengakuan salah satu anggota DPRD baru yang berhasil ditemui siang itu. “Belum ada keputusan yang jelas mengenai mobil dinas bagi kami sebagai anggota DPRD yang baru, hanya anggota DPRD lama yang di urusi mengenai mobil - mobil dinas tersebut.” Itulah kalimat pertama yang terlontar dari mulut anggota DPRD fraksi Demokrat dari komisi A Mohammad Anwar ketika ditanyai tanggapannya mengenai mobil dinas yang sedang diberitakan saat ini. Pernyataan tersebut terlontar begitu saja karena merasa yang menjadi sorotan hanyalah anggota DPRD yang lama. Sementara anggota DPRD baru yang telah mendapat janji akan mendapatkan mobil dinas berupa mobil Panther tak pernah ada kelanjutannya hingga sekarang.
Mohammad Anwar merasa bahwa pemberitaan di koran mengenai pengembalian mobil dinas terlalu di lebih – lebihkan, “Seharusnya pemberitaan di media massa tidak perlu sampai seperti itu.” Akan tetapi dirinya tetap setuju dengan keputusan pemerintah bahwa harus tetap ada tindakan dan putusan yang tegas terhadap anggota DPRD lama yang bersikap curang. “Itu adalah aset negara yang harus di kembalikan lagi apabila masa jabatan telah berakhir.” tegasnya. Karena menurut dia, mobil – mobil dinas tersebut dibeli dengan uang rakyat sehingga ketika masa jabatan berakhir harus segera dikembalikan. Ia sendiri berjanji tidak akan bersikap seperti itu ketika nantinya masa jabatan harus berakhir.


FELITA FEDELIA
51408004

Suara Hati

Tugas TMMB, Yunita (51408097)



Rejeki di bulan puasa


Menjelang Hari Raya Idul Fitri tahun 2009, pemkot menggelar Ramadhan fair di Balai Pemuda Surabaya yang akan dimulai pada tanggal 6-12 september 2009.

Tujuan dari acara ini adalah untuk dapat memberikan kemudahan di dalam bulan ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri dengan harga yang terjangkau.

Berbagai kalangan terutama kalangan menengah kebawah sangat terbantu dengan diadakannya rencana ini, salah satunya Bapak Rizky (29) seorang tukang parker honorer yang bertugas menjaga parkiran di daerah pintu keluar di Balai Pemuda.

Penghasilan Bapak Rizky bergantung pada event yang terselengara di Balai Pemuda. “ada event ada uang” ujarnya. Walau demikian di Balai Pemuda sendiri sering diadakan acara audisi, seperti audisi idola cilik yang akan diadakan bulan oktober, maupun pernikahan, metting,dll.

Untuk lahan parkir pengunjung tidak usah khawatir , jika parkir luas yang berada di yang berda pada balai pemuda penuh parkiran akan dialihkan ke lahan parker Gedung DPR.

Keamanan akan terjamin karena banyak yang akan membantu mengatur parkiran dan akan dilakukan pengecekan STNK sebelum keluar dari lahan parker balai pemuda. Sedangkan biaya parkir sendiri dikenakan Rp.2000, Rp.1500 nya akan disetorkan ke Dinas Perhubungandan dan Rp.500 nya akan disetorkan ke dinas kebersihan. Agar balai pemuda dapat terjaga kebersihannya.

Sabtu, 12 September 2009

Tugas TMMB Velina Agatha (51408016)


Surabaya (9/9) – Balai Pemuda merupakan gedung peninggalan Belanda yang pada jaman dahulu digunakan sebagai tempat hiburan oleh orang-orang Belanda. Sekarang tempat ini menjadi tempat serbaguna yang dapat digunakan untuk kegiatan pertemuan, rapat dan juga pusat kegiatan seni dan budaya. Hal ini dibuktikan dengan terpajangnya banyak lukisan di dinding salah satu ruangan di balai pemuda tersebut. Pameran lukisan yang dimulai tanggal 7-14 September 2009 tersebut adalah karya mahasiswa Unesa dan juga alumninya yang tergabung dalam Komunitas Efek Samping.
Komunitas ini terdiri dari Rio, Ainur, Hendra dan Fauzi. Masing-masing dari mereka mempunyai karakter yang unik dalam menuangkan ide menjadi sebuah lukisan yang kemudian menghasilkan karya yang sangat menarik. Salah satunya adalah lukisan karya Hendra. Disetiap lukisan yang ia buat selalu terdapat unsur mobil. “Alasan lukisan saya selalu mobil karena mobil adalah hadiah pertama yang dibelikan orang tua makanya mobil yang menginspirasi saya dalam melukis.”ujar Hendra. Lukisan mobil berjudul Simple Choice karya Hendra ini menggambarkan empat mobil yang berbeda warna, yaitu biru, merah, hijau dan biru yang kemudian ada orang dengan mulut tertempel tanda stop dan menunjuk ke atas mobil-mobil tersebut. Mobil adalah simbol dari partai-partai besar yang ada di Indonesia. Sedangkan orang dengan mulut tertempel tanda stop dan menunjuk ke atas merupakan simbol bahwa orang-orang di Indonesia tahu dan mereka tidak perlu mempertanyakan bahwa simbol mobil-mobil tersebut adalah partai-partai besar yang mendominasi disetiap pemilu. Dalam lukisan-lukisan lainnya ia juga menyuarakan situasi politik di Indonesia sebagai seni memperebutkan kekuasaan.
Para seniman tersebut mengharapkan bahwa seni rupa jangan hanya dilihat sebagai karya seni, tetapi diharapkan mampu memberikan kesadaran kepada masyarakat akan adanya suatu fenomena yang terjadi.

Semangat Balai Pemuda

Di jantung kota Surabaya, berdampingan dengan gedung-gedung tinggi, sebuah bangunan zaman Belanda masih berdiri gagah. Di atas tanah seluas 17.000 meter persegi, Balai Pemuda mencatat sejarahnya sendiri. Dari sebuah pusat rekreasi orang-orang Belanda menjadi markas arek-arek Suroboyo melawan penjajah dan kini menjadi gedung serbaguna. Beralihnya fungsinya Balai Pemuda menunjukkan pergantian generasi di Surabaya. Balai Pemuda adalah balai milik para pemuda Surabaya.



Salah seorang pemuda yang masih bertahan di areal tempat Bioskop Mitra 21 dulu berdiri ini adalah Haji Abdullah. Pria keturunan Bugis ini sudah menjadi tukang parkir di kompleks Balai Pemuda selama duapuluh tujuh tahun. Namun baginya Balai Pemuda bukan hanya tempat ia bekerja namun menjadi sebuah tempat kenangan. “Saya tidak pernah pindah karena di sini (Balai Pemuda) bagus. Tidak ada ganti-ganti (berubah)”. Dengan gaji Rp 800.000,00 sebulan, Haji Abdullah menafkahi istri dan seorang anaknya. Anaknya, seorang lulusan SMK, kini bekerja di gedung DPRD tepat di sebelah kompleks Balai Pemuda. “Jadi bisa pulang bersama-sama.” Ujarnya diiringi senyuman.



Sementara itu, Karjian, seorang pedagang kue basah sedang duduk menunggu pembeli di beranda Galeri Surabaya. Pria 51 tahun itu memilih Balai Pemuda sebagai tempat mangkalnya seteleh seharian mengelilingi kota Surabaya karena Balai Pemuda adalah tempat yang aman. “Kalau di tempat lain, biasanya diobrak (diusir).” Karjian yang telah berjualan di kompleks Balai Pemuda sejak sebelum gedung DPRD dibangun, menyayangkan perobohan Bioskop Mitra 21. Tidak hanya karena pendapatannya berkurang, namun karena gedung bioskop tersebut menyimpan sejarah. “Dulunya itu (gedung bioskop) dibuat tempat nyimpen anggur pas jaman Belanda.”



Lain halnya dengan Miftakhul Fauzi (21), pelukis yang sedang menggelar pameran lukisan di Galeri Surabaya, Balai Pemuda. Ia memilih Balai Pemuda sebagai tempat pameran karena sewa gedungnya cukup terjangkau namun hasilnya efektif. “Baru dua hari pameran sudah ada kurang lebih seratus orang yang datang.” Menurutnya pula, jika ingin menjaring pemuda Surabaya, Balai pemuda adalah gedung yang tepat. “Karena dekat dengan SMA (SMAN 6 Surabaya), banyak anak-anak yang suka main ke sini (Balai Pemuda).”



Sebagai area kompleks serbaguna, Balai Pemuda menjadi tempat menggelar beberapa acara antara lain bazaar, seminar, pameran, audisi, bahkan pesta pernikahan. Tak heran jika Balai pemuda masih memiliki tempat di hati sebagian besar masyarakat Surabaya. Sebagai ladang mencari nafkah, sebagai tempat mengapresiasi seni, bahkan sebagai tempat menggantungkan cita-cita generasi penerusnya. Sekalipun telah menjadi wajah Surabaya selama 102 tahun, Balai Pemuda akan selalu ‘muda’ di antara pemuda-pemuda Surabaya.


Lintas Generasi: Haji Abdullah, Karjian, dan Miftakhul Fauzi, para pemuda Balai Pemuda.



Virginia L. Gunawan, 51408001

tugas tmmb Eddy Susanto 51408108


Balai Pemuda merupakan bagunan bersejarah yang sudah lama berada di kota Surabaya. Ketika sedang meliput berita berada disekitar gedung Balai Pemuda tersebut, diadakan sebuah pameran. Salah satunya adalah pameran baju lebaran. Ketika sedang meliput berita, ada seorang Ibu asal bekasi yang baru 7 bulan berada dikota Surabaya sedang menjaga dagangan bajunya di pameran. Ibu tersebut baru mengikuti pameran beberapa hari. Pakaian yang dijual ibu tersebut lumayan untung, kira-kira hampir 40 persen. bahan yang di gunakan dalam baju-baju lebaran tersebut adalah dari katun dan spandex. Baju kaos yang dipamerkan berasal dari Jakarta, sedangkan batiknya berasal dari pekalongan. Ibu tersebut harus menetap dikota Surabaya, karena suaminya orang Surabaya dan pekerjaan suaminya adalah desain interior. Barang dagangannya bukan hanya dijual saat pameran saja, tapi ibu tersebut mempunyai toko baju di jalan menur kota Surabaya dan di kota bekasi. Bahkan pakaian yang dijual ibu tersebut pernah masuk di majalah Nova. Dalam menjual baju ini, ibu tersebut tidak mengejar target harus menjual berapa baju dalam sehari. Kadang ibu ini sempat berpikir bahwa lebih enak berjualan di kota Bekasi ketimbang kota Surabaya, karena pembeli yang berada dikota bekasi lebih enak di ajak bicara ketimbang pembeli yang berada dikota Surabaya. Pembeli yang membeli pakaian tersebut rata-rata adalah teman dari ibu tersebut, sehingga barang yang di pamerkan hanya sedikit dan kalo pembeli ingin membeli banyak ibu tersebut harus memesannya terlebih dahulu.


Eddy Susanto


51408108

Tugas TMMB (Brigitta Maria Iswanto, 51408072)

Oktav sibuk menata barang dagangannya.
Oktav memakai salah satu tas yang dijual.


Usia Muda Tidak menjadi Penghalang untuk Meraih Kesuksesan



Surabaya-Kemeriahan bulan Ramadhan juga dapat dirasakan di Balai Pemuda dalam acara Ramadhan Fair, Rabu (9/9). Acara ini diadakan oleh pihak Balai Pemuda dengan mengangkat konsep bazaar. Berbagai macam barang dijual pada acara bazaar ini, seperti buku, baju, dan aksesoris. Barang-barang tersebut dijual dengan harga cukup terjangkau. Meja dan kursi pun telah disediakan untuk para pedagang yang ikut ambil bagian dalam acara Ramadhan Fair telah tertata rapi di setiap sudut Balai Pemuda.

Di salah satu ruang yang agak gelap dan cukup lebar tampak seorang pemuda sedang sibuk seorang diri mengeluarkan barang dagangannya dari kardus-kardus yang berjajar di sekelilingnya. Setiap kardus berisi bermacam-macam barang dagangan. Salah satu kardus yang terbuka di sebelah pemuda tersebut berisi banyak tas dengan berbagai macam bentuk dan warna. Pemuda tersebut dengan teliti dan cekatan mengeluarkan satu persatu barang dagangannya sambil sesekali mengusap keringat yang menetes dari dahinya. Setelah selesai mengeluarkan semua barang dagangannya, ia mulai menata barang tersebut untuk dipajang agar pembeli tertarik untuk melihat dan membeli barang dagangannya.

Pemuda tersebut bernama Oktav, 21 tahun, bungsu dari 4 bersaudara. Di usianya yang tergolong masih muda Oktav sudah berkecimpung dalam usaha aksesoris ini selama 3 tahun. Usaha aksesoris ini dimulai pada saat Oktav mempunyai ide untuk membuat kalung atau gelang dari bahan kayu dan seutas tali berwarna hitam yang biasa digunakan untuk membuat kalung atau gelang dan dirangkai sendiri kemudian dijual dengan harga sekitar Rp 5000,00-Rp 20.000,00.

Sedikit demi sedikit akhirnya Oktav berhasil mengumpulkan uang untuk modal membuka toko. Dengan berbekal uang hasil berjualan, Oktav sekarang telah mempunyai toko di Royal Plasa dan City of Tommorow (Cito). Toko yang berhasil ia dirikan tersebut diberi nama “Silver Aksesoris”. Setelah usahanya semakin meningkat Oktav mulai memberanikan diri untuk menjual aksesoris dan tas dari toko orang lain. Pada awalnya Oktav merasa ragu untuk mengambil resiko menjual aksesoris dan tas yang ia ambil dari toko orang lain, tetapi hal tersebut tidak membuat Oktav menyerah sehingga ia bisa meraih kesuksesan seperti sekarang ini.

Barang dari toko orang lain seperti tas rajutan, tas dari bahan kain, kalung dan cincin monel dijual dengan harga sekitar Rp 25.000,00-Rp40.000,00. Cincin monel banyak terjual karena cincin tersebut dibuat satu pasang. Banyak pasangan muda yang sedang jatuh cinta tertarik untuk membeli cincin tesebut. Selain itu banyak juga pemuda berebut untuk membeli tas, dari tas berukuran besar sampai tas berukuran kecil.

Penghasilan Oktav semakin meningkat apalagi selama bulan Ramadhan sehingga ia menyetujui undangan dari pihak Balai Pemuda untuk ikut ambil bagian dalam acara Ramadhan Fair ini. Oktav merasa bangga dan senang dapat mengikuti acara ini sehingga ia dapat berbagi dengan orang lain dari hasil penjualan yang diperoleh.